Mengenai kami

Jombang, Jawa Timur, Indonesia
susunan pengurus bem-ft ikaha 2010-2011 presma: M. Gus Khisomuddin wapresma:Nunu Husnun mensek: Izzatus Shobihah menkeu: Yeni Lailatur Rosyidah mandagri: Achmad Basuki menlu: M. Anwar Mambauddin men. pemberdayaan perempuan: Binti Nur Sholihah

MONGGO

Memuat...

Kamis, 03 Maret 2011

Beralih ke Universitas, IKAHA Siap Go Public

Minggu, 27 Februari 2011 21:05



djombang.com – Setelah lama eksis di dunia pendidikan, Institut Keislaman Hasyim Asy’ari(IKAHA) semakin menampakkan dirinya untuk mencerdaskan masyarakat. IKAHA yang berdiri sejak 1967, kini berubah menjadi universitas. Untuk berubah yang awalnya institut menjadi universitas tentunya ada pertimbangan mendasar.

Ketua Yayasan Hasyim Asy’ary, H A Hafidz Ma’soem memberi alasan, perubahan tersebut tentu saja dengan alasan untuk menampung pendidikan masyarakat lokal. “Ketika mereka belum diberi kesempatan untuk meneruskan pendidikan di luar daerah, maka Unhas (Universitas Hasyim Asy’ary, red) memberi solusi,” ujar pria yang akrab disapa Gus Hafidz ini, usai memberikan sambutan pada acara Rapat Senat Tertutup, Minggu (27/2).

Ia melanjutkan, dalam perubahan status ini Unhas ke depan tidak akan mengesampingkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ia menyebutkan, Tri Dharma Perguruan Tinggi antara lain; kualitas dosen, penelitian, dan pengabdian terhadap masyarakat.

Gus Hafidz menandaskan, dalam perubahan status tersebut tidak akan merubah dasar didirikannya IKAHA dulu, yakni berbasis pesantren. “Saya tegaskan, meski IKAHA berubah menjadi universitas, namun ada spesialisasi tersendiri. Universitas ini tetap menjadi kampus yang berbasis pesantren. Yang jelas ini demi kemaslahatan umat,” kata mantan anggota DPR-RI ini.

Dalam perubahan ini, paling tidak ada penambahan tiga fakultas. Fakultas Teknik, Fakultas Kesehatan Masyarakat, dan Fakultas Ekonomi Syariah.

Untuk membuka fakultas baru, kata dia, satu fakultas membutuhkan dana paling tidak Rp 300 juta. “Ini tidak mudah, untuk itu kampus membutuhkan seorang rektor yang memiliki mobilitas tinggi. Pandangan itu tertuju pada Gus Sholah (KH Salahudin Wahid),” katanya.

Acara Rapat Senat Tertutup yang berlangsung di sebuah rumah makan tersebut untuk membahas penetapan program dan pemilihan rektor tahun akademik 2011-2015. Acara tersebut dihadiri paling tidak 22 anggota senat, beberapa dosen tetap IKAHA, dewan pembina, dan dewan pengawas.

Perubahan IKAHA menjadi Universitas Hasyim Asy’ary ditargetkan pada tahun 2012 sudah berjalan. Namun, akta notaris itu sudah diganti menjadi universitas. Dalam perjalanan nanti, direncanakan nama-nama yang sudah lama bergelut di dunia pendidikan akan ikut mengawal. Mereka antara lain; Prof. Dr. Haris Suprapto (mantan Rektor IKIP Surabaya), Prof. Kacung Maridjan (dosen Unair), dan Prof. Dr. Imam Suprayogo dari Malang.CHO

Selasa, 01 Maret 2011

Membangun Klub Pecinta Buku di Sekolah




Ini ada sebuah cerita manis tentang kegiatan bersama yang dilakukan oleh para guru, orang tua dan murid di sebuah sekolah dasar di New York. Mereka bersatu padu menyukseskan program klub pecinta buku yang tujuannya untuk menumbuhkan rasa cinta baca buku di kalangan murid dan orang tuanya. Kegiatan ini bermula dari keinginan para orang tua di Northwood Elementary School di Hilton, New York yang ingin terlibat lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah anak mereka. Maka munculah sebuah ide segar dari Dorothy Distefano untuk mendirikan sebuah klub pecinta buku di sekolah tersebut. Dorothy melihat betapa pentingnya manfaat dari membaca ini bagi para murid sekolah. Hal ini terbukti dengan hasil penelitian yang sering dia lakukan dan selalu mempunyai kesimpulan yang sama, yakni : Murid yang gemar membaca selalu punya nilai yang lebih tinggi di setiap tes ujian. Namun kebanyakan murid melakukan kegiatan membaca karena terpaksa bukan karena kesenangan pribadi. Sementara anggota keluarga yang sering berdiskusi mengenai suatu buku memiliki komunikasi yang bagus di keluarganya.

Dorothy memulai klubnya dengan membagi terlebih dahulu menjadi empat grup, yaitu grup kelas 5-6, grup kelas 3-4, grup kelas 2-3 dan grup kelas 1. Keempat grup ini mengadakan pertemuan setidaknya sekali setiap enam minggu di perpustakaan sekolah dengan jadwal bergantian. Pemilihan buku dilakukan oleh Dorothy dengan berbagai pertimbangan, diantaranya harus menarik, berkualitas, tidak objektif dan tidak menyinggung pribadi para muridnya. Para orang tua disarankan untuk membaca terlebih dulu buku yang akan dijadikan diskusi sehingga dapat mendampingi para murid dalam pertemuan tersebut. Kadang apabila orang tua berhalangan hadir maka murid akan mengajak anggota keluarga lain, seperti paman, bibi dan bahkan kakek mereka. Sebagai moderator dalam diskusi tersebut, Dorothy selalu berusaha untuk menjaga suasana diskusi semenarik mungkin dengan mengembangkan pembicaraan sambil tetap selalu berada di jalur buku yang dijadikan topik diskusi. "Diskusi kami buat senyaman mungkin dan tidak kaku. Kami selalu mengingatkan para anggota bahwa dalam diskusi ini tidak ada jawaban yang salah, semua pendapat akan dihargai," kata Dorothy sambil menambahkan, "Setiap anak yang berani menyatakan pendapatnya akan diberi hadiah berupa permen atau manisan coklat."

"Sejauh ini kami belum mengukur akibat langsung dari program ini, " kata Dorothy. "Tapi kami sudah mengadakan survei tentang kegiatan ini dan mendapat masukan yang positif. Murid merasa kegiatan diskusi ini menarik dan menyenangkan, sementara orang tua menyenangi kegiatan berdikusi ini karena bisa mengobrol banyak dengan anak mereka dan teman-temannya."

Christine McCaffrey, kepala sekolah dari Northwood Elemantary, bahkan sangat mendukung dan optimis dengan kegiatan diskusi buku ini. "Melalui kegiatan ini kita dapat meraup dua manfaat sekaligus, para murid yang bertambah tinggi keinginan membacanya dan pada saat yang sama kemampuan komunikasi antar anak dan orang tua juga semakin baik kualitasnya."

Tip Memulai Klub Pecinta Buku

Anda tertarik dengan program ini? Simak saran-saran yang diberikan oleh Dorothy Distefano mengenai kegiatan diskusi ini :
Mulailah secara perlahan tapi pasti, dimulai dari grup kecil dan terfokus supaya dapat memantapkan pondasi.
Bersiaplah untuk berinteraksi dengan berbagai macam tipe murid dan orang tua.
Dukungan administratif sangat berguna untuk melancarkan jalannya kegiatan.
Berhati-hatilah dalam pemilihan buku. Bacalah buku secara keseluruhan sebelum memilihnya menjadi topik diskusi. Membaca secara garis besarnya saja tidak akan memberikan cukup informasi mengenai suatu buku.

Sebagai tambahan Dorothy kadang membuat iklan promosi kecil-kecilan mengenai kegiatan mereka. Pengumuman, poster dan hadiah sering mereka pakai untuk mengajak para murid bergabung ke dalam kegiatan diskusi ini. Dan ternyata terbukti manjur

Rabu, 22 Desember 2010

TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG TUJUAN PENDIDIKAN

I. PENDAHULUAN
Islam sangat mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar dan berkualitas, individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan kehidupan sosial yang bermoral. Sayangnya, sekalipun institusi-institusi pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun institusi-institusi tersebut masih belum memproduksi individu-individu yang beradab. Sebabnya, visi dan misi pendidikan yang mengarah kepada terbentuknya manusia yang beradab, terabaikan dalam tujuan institusi pendidikan.
Penekanan kepada pentingnya anak didik supaya hidup dengan nilai-nilai kebaikan, spiritual dan moralitas seperti terabaikan. Bahkan kondisi sebaliknya yang terjadi. Saat ini, banyak institusi pendidikan telah berubah menjadi industri bisnis, yang memiliki visi dan misi yang pragmatis. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan individu-individu pragmatis yang bekerja untuk meraih kesuksesan materi dan profesi sosial yang akan memakmuran diri, perusahaan dan Negara. Pendidikan dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai sebuah investasi. Gelar dianggap sebagai tujuan utama, ingin segera dan secepatnya diraih supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan menuai keuntungan. Sistem pendidikan seperti ini sekalipun akan memproduksi anak didik yang memiliki status pendidikan yang tinggi, namun status tersebut tidak akan menjadikan mereka sebagai individu-individu yang beradab. Pendidikan yang bertujuan pragmatis dan ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh dari paradigma pendidikan Barat yang sekular.
Dalam budaya Barat sekular, tingginya pendidikan seseorang tidak berkorespondensi dengan kebaikan dan kebahagiaan individu yang bersangkutan. Dampak dari hegemoni pendidikan Barat terhadap kaum Muslimin adalah banyaknya dari kalangan Muslim memiliki pendidikan yang tinggi, namun dalam kehidupan nyata, mereka belum menjadi Muslim-Muslim yang baik dan berbahagia. Masih ada kesenjangan antara tingginya gelar pendidikan yang diraih dengan rendahnya moral serta akhlak kehidupan Muslim. Ini terjadi disebabkan visi dan misi pendidikan yang pragmatis. Sebenarnya, agama Islam memiliki tujuan yang lebih komprehensif dan integratif dibanding dengan sistem pendidikan sekular yang semata-mata menghasilkan para anak didik yang memiliki paradigma yang pragmatis.
Dalam makalah ini penulis berusaha menggali dan mendeskripsikan tujuan pendidikan dalam Islam secara induktif dengan melihat dalil-dalil naqli yang sudah ada dalam al-Qur’an maupun al-Hadits, juga memadukannya dalam konteks kebutuhan dari masyarakat secara umum dalam pendidikan, sehingga diharapkan tujuan pendidikan dalam Islam dapat diaplikasikan pada wacana dan realita kekinian.
II. PEMBAHASAN
1. Kandungan Al-Qur’an Surat al-Dzariyat [51] ayat 56
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. al-Dzariyat [51] : 56)
Ayat ini dengan sangat jelas mengabarkan kepada kita bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain hanyalah untuk “mengabdi” kepada Allah SWT. Dalam gerak langkah dan hidup manusia haruslah senantiasa diniatkan untuk mengabdi kepada Allah. Tujuan pendidikan yang utama dalam Islam menurut Al-Qur’an adalah agar terbentuk insan-insan yang sadar akan tugas utamanya di dunia ini sesuai dengan asal mula penciptaannya, yaitu sebagai abid. Sehingga dalam melaksanakan proses pendidikan, baik dari sisi pendidik atau anak didik, harus didasarisebagai pengabdian kepada Allah SWT semata.
Mengabdi dalam terminologi Islam sering diartikan dengan beribadah. Ibadah bukan sekedar ketaatan dan ketundukan, tetapi ia adalah satu bentuk ketundukan dan ketaatan yang mencapai puncaknya akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia mengabdi. Ibadah juga merupakan dampak keyakinan bahwa pengabdian itu tertuju kepada yang memiliki kekuasaan yang tidak terjangkau dan tidak terbatas.[1] Ibadah dalam pandangan ilmu Fiqh ada dua yaitu ibadah mahdloh dan ibadah ghoiru mahdloh. Ibadah mahdloh adalah ibadah yang telah ditentukan oleh Allah bentuk, kadar atau waktunya seperti halnya sholat, zakat, puasa dan haji. Sedangkan ibadah ghoiru mahdloh adalah sebaliknya, kurang lebihnya yaitu segala bentuk aktivitas manusia yang diniatkan untuk memperoleh ridho dari Allah SWT.
Segala aktivitas pendidikan, belajar-mengajar dan sebagainya adalah termasuk dalam kategori ibadah. Hal ini sesuai dengansabda Nabi SAW :
طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة (رواه ابن عبد البر)
“Menuntut ilmu adalah fardlu bagi tiap-tiap orang-orang Islam laki-laki dan perempuan” (H.R Ibn Abdulbari)
من خرج فى طلب العلم فهو فى سبيل الله حتى يرجع (رواه الترمذى)
“Barangsiapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka dia telah termasuk golongan sabilillah (orang yang menegakkan agama Allah) hingga ia sampai pulang kembali”. (H.R. Turmudzi)[2]
Pendidikan sebagai upaya perbaikan yang meliputi keseluruhan hidup individu termasuk akal, hati dan rohani, jasmani, akhlak, dan tingkah laku. Melalui pendidikan, setiap potensi yang di anugerahkan oleh Allah SWT dapat dioptimalkan dan dimanfaatkan untuk menjalankan fungsi sebagai khalifah di muka bumi. Sehingga pendidikan merupakan suatu proses yang sangat penting tidak hanya dalam hal pengembangan kecerdasannya, namun juga untuk membawa peserta didik pada tingkat manusiawi dan peradaban, terutama pada zaman modern dengan berbagai kompleksitas yang ada.
Dalam penciptaaannya, manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan dengan dua fungsi, yaitu fungsi sebagai khalifah di muka bumi dan fungsi manusia sebagai makhluk Allah yang memiliki kewajiban untuk menyembah-Nya. Kedua fungsi tersebut juga dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya berikut, “…’Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’…” [Q.S Al-Baqarah(2): 30]. Ketika Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi dan dengannya Allah SWT mengamanahkan bumi beserta isi kehidupannya kepada manusia, maka manusia merupakan wakil yang memiliki tugas sebagai pemimpin dibumi Allah.
Ghozali melukiskan tujuan pendidikan sesuai dengan pandangan hidupnya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yaitu sesuai dengan filsafatnya, yakni memberi petunjuk akhlak dan pembersihan jiwa dengan maksud di balik itu membentuk individu-individu yang tertandai dengan sifat-sifat utama dan takwa.[3]
Dalam khazanah pemikiran pendidikan Islam, pada umumnya para ulama berpendapat bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah ”untuk beribadah kepada Allah SWT”. Kalau dalam sistem pendidikan nasional, pendidikan diarahkan untuk mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa, maka dalam konteks pendidikan Islam justru harus lebih dari itu, dalam arti, pendidikan Islam bukan sekedar diarahkan untuk mengembangkan manusia yang beriman dan bertaqwa, tetapi justru berusaha mengembangkan manusia menjadi imam/pemimpin bagi orang beriman dan bertaqwa (waj’alna li al-muttaqina imaama).
Untuk memahami profil imam/pemimpin bagi orang yang bertaqwa, maka kita perlu mengkaji makna takwa itu sendiri. Inti dari makna takwa ada dua macam yaitu; itba’ syariatillah (mengikuti ajaran Allah yang tertuang dalam al-Qur’an dan Hadits) dan sekaligus itiba’ sunnatullah (mengikuti aturan-aturan Allah, yang berlalu di alam ini), Orang yang itiba’ sunnatullah adalah orang-orang yang memiliki keluasan ilmu dan kematangan profesionalisme sesuai dengan bidang keahliannya. Imam bagi orang-orang yang bertaqwa, artinya disamping dia sebagai orang yang memiki profil sebagai itba’ syaria’tillah sekaligus itba’ sunnatillah, juga mampu menjadi pemimpin, penggerak, pendorong, inovator dan teladan bagi orang-orang yang bertaqwa.[4]
2. Kandungan Al-Qur’an Surat al-Baqarah [2] ayat 247
“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah Telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. al-Baqarah [2] : 247)
Ayat ini menerangkan mengenai kisah pengangkatan Thalut sebagai raja Bani Israil. Allah menceritakan kisah ini dengan sangat indah, dimana orang yang berpendidikan dan mempunyai fisik kuatlah yang pantas menjadi pemimpin dan melaksanakan titah sebagai khalifah fil ardl.
Nabi Syamuil mengatakan kepada Bani Israil, bahwa Allah SWT telah mengangkat Thalut sebagai raja. Orang-orang Bani Israil tidak mau menerima Thalut sebagai raja dengan alasan, bahwa menurut tradisi, yang boleh dijadikan raja itu hanyalah dari kabilah Yahudi, sedangkan Thalut sendiri adalah dari kabilah Bunyamin. Lagi pula disyaratkan yang boleh menjadi raja itu harus seorang hartawan, sedang Thalut sendiri bukan seorang hartawan. Oleh karena itu secara spontan mereka membantah, “Bagaimana Thalut akan memerintah kami, padahal kami lebih berhak untuk mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup untuk menjadi raja?”
Nabi Syamuil menjawab bahwa Thalut diangkat menjadi raja atas pilihan Allah SWT karena itu Allah menganugerahkan kepadanya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa sehingga ia mampu untuk memimpin Bani Israil. Dari ayat ini diambil pengertian bahwa seorang yang akan dijadikan raja ataupun pemimpin itu hendaklah memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1. Kekuatan fisik sehingga mampu untuk melaksanakan tugasnya sebagai kepala negara.
2. Ilmu pengetahuan yang luas, mengetahui di mana letaknya kekuatan umat dan kelemahannya, sehingga dapat memimpinnya dengan penuh kebijaksanaan.
3. Kesehatan jasmani dan kecerdasan pikiran.
4. Bertakwa kepada Allah supaya mendapat taufik daripada-Nya untuk mengatasi segala kesulitan yang tidak mungkin diatasinya sendiri kecuali dengan taufik dan hidayah-Nya. [5]
Manusia sebagai khalifah di bumi bisa melaksanakan amanah memakmurkan bumi jika manusia tersebut mempunyai 4 karakter diatas. Karakter-karakter tersebut hanya bisa diperoleh dengan pendidikan yang baik dan usaha yang terus menerus. Pendidikan jasmani akan menghasilkan raga yang sehat, kuat dan tangguh. Pendidikan rohani akan menghasilkan pengetahuan yang luas, akhlak yang baik dan ketaqwaan kepada Sang Kholik. Kedua jenis pendidikan ini saling terkait dan sama pentingnya untuk menghasilkan manusia-manusia paripurna yang bisa mengemban amanat sebagai khalifah. Adapun harta kekayaan tidak dimasukkan menjadi syarat untuk menjadi raja (pemimpin) karena bila syarat-syarat yang empat tersebut telah dipenuhi, maka mudahlah baginya untuk mendapatkan harta yang diperlukan sebab Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.
Hujair A.H. Sanaky menyebut istilah tujuan pendidikan Islam dengan visi dan misi pendidikan Islam. Menurutnya sebenarnya pendidikan Islam telah memiki visi dan misi yang ideal, yaitu“Rohmatan Lil ‘Alamin”. Selain itu, sebenarnya konsep dasar filosofis pendidikan Islam lebih mendalam dan menyangkut persoalan hidup multi dimensional, yaitu pendidikan yang tidak terpisahkan dari tugas kekhalifahan manusia, atau lebih khusus lagi sebagai penyiapan kader-kader khalifah dalam rangka membangun kehidupan dunia yang makmur, dinamis, harmonis dan lestari sebagaimana diisyaratkan oleh Allah dalam al Qur’an. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang ideal, sebab visi dan misinya adalah “Rohmatan Lil ‘Alamin”, yaitu untuk membangun kehidupan dunia yang yang makmur, demokratis, adil, damai, taat hukum, dinamis, dan harmonis.[6]
1. Kandungan Al-Qur’an Surat al-Qashash [28] ayat 26
“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.
Rupanya orang tua itu (Nabi Syuaib) tidak mempunyai anak laki-laki dan tidak pula mempunyai pembantu. Oleh sebab itu yang mengurus semua urusan keluarga itu hanyalah kedua putrinya saja, sampai keduanya terpaksa menggembala kambing mereka, di samping mengurus rumah tangga. Terpikirlah salah seorang putri itu untuk memintanya supaya datang memenuhi undangan bapaknya alangkah baiknya kalau Musa yang nampaknya amat baik sikap dan budi pekertinya dan kuat tenaganya diangkat menjadi pembantu di rumah ini. Putri itu mengusulkan kepada bapaknya angkatlah Musa itu sebagai pembantu kita yang akan mengurus sebagian urusan kita sebagai penggembala kambing, mengambil air dan sebagainya. Saya lihat dia seorang yang jujur dapat dipercaya dan kuat juga tenaganya. Usul itu berkenan di hati bapaknya, bahkan bapaknya bukan saja ingin mengangkatnya sebagai pembantu, malah ia hendak mengawinkan putrinya itu dengan Musa dan sebagai maharnya Musa harus bekerja di sana selama delapan tahun dan bila Musa menyanggupi sepuluh tahun dengan suka rela itulah yang lebih baik.[7]
Ayat di atas mengisahkan mengenai pelarian Nabi Musa dari kejaran tentara Fir’aun untuk dibunuh hingga akhirnya bertemu dengan dua putri dari Nabi Syuaib dan membantunya mengambilkan air minum untuk ternaknya. Nabi Syuaib adalah seorang pemuka agama dan masyarakat di negeri Madyan. Konon Nabi Musa adalah seorang yang gagah perkasa, kuat, pandai memimpin dan jujur lagi dapat dipercaya. Karena sifat-sifat terpuji itulah yang membuat anak gadis Nabi Syuaib terkesima dan Nabi Syuaib juga berencana menikahkan salah satu diantara anak gadisnya dengan Nabi Musa.
Ibnu Taimiyah dalam bukunya as-Syiasah Asyriyyah merujuk pada ayat di atas, demikian juga ucapan penguasa Mesir ketika memilih dan mengangkat Nabi Yusuf A.S sebagai kepala badan logistik negara.[8] “Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia (Yusuf), dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari Ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami” (Q.S. Yusuf [12] : 54). Hal ini menegaskan bahwa pentingnya kedua sifat tersebut, yaitu kuat dan dipercaya, untuk dimiliki oleh orang yang diberi amanat mengemban tugas berat.
Pengertian kuat disini adalah kekuatan dalam berbagai aspek dan bidang. Oleh karena itu terlebih dahulu harus dilihat bidang apa yang akan ditugaskan kepada yang dipilih. Sedangkan kepercayaan tersebut diatas yang dimaksud adalah integritas pribadi dari orang yang diberi amanat. Di zaman modern sekarang ini diperlukan orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing dan mempunyai integritas pribadi yang unggul dan terpuji guna mengembangkan segala aspek kehidupan yang lebih bermakna. Diharapkan orang mukmin mempunyai spesialisasi tertentu di bidang iptek dan punya integritas pribadi tangguh untuk mengembangkan ummat Islam menuju kejayaan. Mukmin kuat dalam berbagai bidang lebih baik dibandingkan dengan mukmin lemah, hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW : “Dari Abu Hurairah R.A bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, dan masing-masing mempunyai kebaikan. Gemarlah kepada hal-hal yang berguna bagimu. Mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah menjadi lemah. Jika engkau ditimpa sesuatu, jangan berkata: Seandainya aku berbuat begini, maka akan begini dan begitu. Tetapi katakanlah: Allah telah mentakdirkan dan terserah Allah dengan apa yang Dia perbuat. Sebab kata-kata seandainya membuat pekerjaan setan.” (H.R. Muslim).[9]
1. Kandungan Al-Qur’an Surat Ali Imron [3] ayat 19
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”
Ayat diatas menunjukkan sebagai berita dari Allah SWT yang menyatakan bahwa tidak ada agama yang diterima dari seseorang di sisi-Nya selain Islam, yaitu mengikuti para Rasul yang diutus oleh Allah SWT di setiap masa, hingga diakhiri dengan Nabi Muhammad SAW yang membawa agama yang menutup semua jalan lain kecuali jalan yang telah ditempuhnya. Karena itu, barangsiapa yang menghadap kepada Allah – sesudah Nabi Muhammad SAW diutus – dengan membawa agama yang bukan syariatnya, maka hal itu tidak diterima oleh Allah.
Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas membaca firman Allah diatas dengan innahu yang di-kasrah-kan dan anna di-fathah-kan, artinya “Allah telah menyatakan, begitu pula para malaikat dan orang-orang berilmu, bahwa agama yang diridloi di sisi Allah adalah Islam”. Sedangkan menurut jumhur ulama’, mereka membacanya kasrah, yaitu ‘innad diina’ sebagai kalimat berita. Bacaan tersebut kedua-duanya benar, tetapi menurut bacaan jumhur ulama lebih kuat.[10]
Kemudian Allah SWT memberitakan bahwa orang-orang yang telah diberikan Al-Kitab kepada mereka di masa-masa yang lalu, mereka berselisih pendapat hanya setelah hujjah ditegakkan atas mereka, yakni sesudah para Rasul diutus kepada mereka dan kitab-kitab samawi diturunkan buat mereka. Sebagian dari mereka merasa dengki terhadap sebagian yang lainnya, lalu mereka berselisih pendapat dalam perkara kebenaran. Hal tersebut terjadi karena terdorong oleh rasa dengki, benci dan saling menjatuhkan, hingga sebagian dari mereka berusaha menjatuhkan sebagian yang lain dengan menentangnya dalam semua ucapan dan perbuatannya, sekalipun benar.[11] Terhadap orang-orang yang ingkar kepada ayat-ayat Allah yang telah diturunkan, maka sesungguhnya Allah akan membalas perbuatannya dan melakukan perhitungan terhadapnya atas kedustaannya itu, dan akan menghukumnya akibat ia menentang Kitab-Nya.
Keterangan di atas menunjukkan kedengkian dan kebencian umat Yahudi dan Nasrani terhadap umat Islam pada zaman sekarang setelah hujjah dan penjelasan datang pada mereka tentang kebenaran Islam. Walaupun mereka diberi akal dan pengetahuan oleh Allah SWT, tetapi karena hatinya tertutup oleh rasa sombong dan dengki terhadap Islam sehingga tidak mau menerima kebenaran Islam. Pengetahuan yang mereka peroleh digunakan untuk menuruti hawa nafsu mereka belaka, seperti dapat kita lihat di negara-negara yang mayoritas penduduknya Yahudi dan Nasrani. Pengetahuan yang telah diperoleh untuk memperkaya diri, menyombongkan diri bahkan saling berusaha menguasai dan menjajah diantara satu dengan lainnya dalam segala bidang kehidupan. Sehingga pengetahuan yang mereka peroleh kering dari makna serta membuat semakin kehilangan arah ke-ilahi-an dan miskin dimensi transendental.
Tujuan pendidikan ala Al-Qur’an jelas beda dengan konsep pendidikan di Barat yang mengedepankan materialistik. Dengan bekal pendidikan dan pengetahuan yang didapat dari proses belajar-mengajar secara Islami diharapkan akan terbentuk muslim yang lebih tangguh, berpengetahuan luas dan yakin akan kebenaran ajaran Islam. Pengetahuan yang didapatpun akan lebih didayagunakan untuk kemaslahatan umat Islam pada khususnya dan rahmatan lil alamin pada umumnya.
III. ANALISIS KRITIS AYAT-AYAT TUJUAN PENDIDIKAN
Tujuan adalah suatu yang diharapakan tercapai setelah sesuatu kegiatan selesai atau tujuan adalah cita, yakni suasana ideal itu nampak yang ingin diwujudkan. Dalam tujuan pendidikan, suasana ideal itu tampak pada tujuan akhir (ultimate aims of education). Adapun tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalami proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dimana individu hidup, selain sebagai arah atau petunjuk dalam pelaksanaan pendidikan, juga berfungsi sebagai pengontrol maupun mengevaluasi keberhasilan proses pendidikan.
Sebagai pendidikan yang notabenenya Islam, maka tentunya dalam merumuskan tujuan harus selaras dengan syari’at Islam. Adapun rumusan tujuan pendidikan Islam yang disampaikan beberapa tokoh adalah :
1. Ahmad D Marimba; tujuan pendidikan Islam adalah; identiuk dengan tujuan hidup orang muslim. Tujuan hidup manusia munurut Islam adalah untuk menjadi hamba allah. Hal ini mengandung implikasi kepercayaan dan penyerahan diri kepada-Nya .
2. Dr. Ali Ashraf; “tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang menyerahkan diri secara mutlak kepada Allah pada tingkat individu, masyarakat dan kemanusiaan pada umumnya”.
3. Muhammad Athiyah al-Abrasy. “the fist and highest goal of Islamic is moral refinment and spiritual, training” (tujuan pertama dan tertinggi dari pendidikan Islam adalah kehalusan budi pekerti dan pendidikan jiwa)”
4. Syahminan Zaini; “Tujuan Pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang berjasmani kuat dan sehat dan trampil, berotak cerdas dan berilmua banyak, berhati tunduk kepada Allah serta mempunyai semangat kerja yang hebat, disiplin yang tinggi dan berpendirian teguh”.
Dari berbagai pendapat tentang tujuan pendidikan Islam diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani serta moral yang tinggi, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai anggota masyarakat.
IV. KESIMPULAN
Dari uraian dan penjelasan di atas, pemakalah menyimpulkan :
1. Tujuan utama dalam pendidikan Islam adalah membentuk pribadi muslim yang sadar akan tujuan asal mula penciptaannya, yaitu sebagai abid (hamba). Sehingga dalam melaksanakan proses pendidikan, baik dari sisi pendidik atau anak didik, harus didasarisebagai pengabdian kepada Allah SWT semata, selain itu dalam setiap gerak langkahnya selalu bertujuan memperoleh ridho dari Yang Maha Kuasa.
2. Pendidikan Islam mempunyai misi membentuk kader-kader khalifah fil ardl yang mempunyai sifat-sifat terpuji seperti amanah, jujur, kuat jasmani dan mempunyai pengetahuan yang luas dalam berbagai bidang. Diharapkan akan terbentuk muslim yang mampu mengemban tugas sebagai pembawa kemakmuran di bumi dan“Rahmatan Lil Alamin“.
3. Secara umum tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani serta moral yang tinggi, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai anggota masyarakat.
Wallahu ‘alam bisshowab
DAFTAR PUSTAKA
Al-Abrasy M. Athiyah, 1968, At-Tarbiyah al-Islamiyah (terj; Bustami A.Goni, dan Djohar Bakry) , Jakarta : Bulan Bintang.
Al-Abrasy M. Athiyah, 1969, At-Tarbiyah al-Islamiyah wal Falsafatuha, Isa al-Baby al-Halaby, Qahirah
Al-Attas An Naquib, 1988, Konsep Pendidikan Dalam Islam, Bandung : Mizan.
Ali Ashraf, 1989, Horison Baru Pendidikan (Islam dan Umum), Jakarta : Pustaka Firdaus.
Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani, 1995, Bulughul Maram, (terj; H. Mahrus Ali), Mutiara Ilmu , Surabaya
Azra. Azyumardi, 2002, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu
Drs. H. Moh. Rifa’i, 1978, Ilmu Fiqh Islam Lengkap, Semarang : PT. Karya Toha Putra
M. Quraisy Shihab, 2002, Tafsir al-Mishbah, Jakarta : Lentera Hati
Marimba, Ahmad D, 1989, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : Al-Ma’arif.
Sanaky, Hujair AH, 2003, Paradigma Pendidikan Islam; Membangun Masyarakat Indonesia. Yogyakarta: Safiria Insania Press dan MSI.
Syahminan Zaini, 1986, Prinsip-Prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islam,Jakarta : Pustaka al-Husna.
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp
http://kahmiuin.blogspot.com/2007/08/konsep-pendidikan-dalam-al-quran-dan.html
________________________________________
[1] . M. Quraish Shihab, Terjemah Tafsir Al-Mishbah juz, (dikutip dari Syeh Muhammad Abduh) juz 13
[2] . Drs. H. Moh. Rifa’i, Ilmu Fiqh Islam Lengkap, Semarang : PT. Karya Toha Putra, hlm 13
[3] . Azyumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002, hal.33
[4] . http://kahmiuin.blogspot.com/2007/08/konsep-pendidikan-dalam-al-quran-dan.html
[5] . http://ccc.1asphost.com/assalamquran/Alquran_surah.asp?pageno=13&SuratKe=2#247
[6] . Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam; Membangun Masyarakat Indonesia, Yogyakarta: Safiria Insania Press dan MSI, hal. 142
[7] . http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp?pageno=2&SuratKe=28#27
[8] . M. Quraisy Shihab, Tafsir al-Mishbah Vol 10, Jakarta : Lentera Hati, 2002
[9] . Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani, Bulughul Maram, (terjemah Bulughul Maram, hadits no 1554, hlm 669)
[10] . Bahrun Abu Bakar, L.C, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir juz 3, hlm 315
[11] . ibid, hlm 315

Sabtu, 31 Oktober 2009

BAKTI SOSIAL UNTUK SUMATRA BARAT Oleh ; Achmad Junaedi (Presma BEMFT)

Dimedia informasi kita telah menyaksikan musibah gempa bumi di Sumatra Barat, Ratusan saudara kita terluka fisiknya bahkan tak sedikit yang meninggal dunia. Rumah mereka hancur, fasilitas gedung pendidikan sampai fasilitas gedung Pemerintahanpun ikut terpora-poranda dengan kapasitas gempa 7,6 scala Richter.

Hati setiap Insanpun terketuk dan tergugah melihat saudar-saudara kita, yang akhirnya timbul rasa ingin membantu, Karena kita sadari selain Mahasiswa yang disebut sebagai generasi yang mengemban segenap titel dipundaknya. ”Agent of Change, Agent of Social Control, mahasiswa juga mengemban misi kemanusiaan. Dengan begitu, keberadaannya tidak hanya sekedar sebagai kaum intelektual semata, namun lebih dari itu bagaimana keberadaannya bisa membawa perubahan dan memberikan kontribusi yang positif bagi lingkungan sekitarnya.

Peranan tersebut tidak akan dimiliki dan disadari bila seseorang tidak pernah melibatkan dirinya dalam sebuah proses pembelajaran. Pembelajaran disini tidak hanya monoton aktif mengikuti perkuliahan semata, akan tetapi lebih dari itu yakni berpartisipasi dan berperan aktif dalam kegiatan Soaial dan Organisasi.

Dengan berkoordinasi dengan pengurus BEMFT, kamipun melakukan kegiatan meminta sumbangan kepada Mahasiswa IKAHA. tidak hanya itu, kamipun meminta sumbangan dengan turun kejalan bersahabat dengan mobil-mobil dan Motor yang berlalu lalang sambil mengadakan kardus ke jendela-jendela mobil, Alhamdulillah kami melakukan kegiatan yang mulia itu selama Empat hari tidak sendiri, tetapi dibantu dengan BEM Syariah, BEM Da’wah,UKM Mbureng dan Pondok Putri Walisongo Cukir. Jumlah sumbangan keseluruhan Rp.5.800.000 (Lima juta delapan ratus ribu rupiah).

. Sungguh amatlah berbahagia kita bisa turut serta membantu saudara kita yang terkena musibah Terimakasih kami Ucapkan kepada seluruh Mahasiswa IKAHA, Santri Putri Pondok Walisongo dan Masya rakat Cukir atas bantuannya untuk saudara-saudara kita di sumbar, bantuan yang anda berikan kami salurkan ke Bank BRI cabang Jombang.

Senin, 12 Oktober 2009


Pentingnya Sebuah Komitmen dalam Berorganisasi

Oleh:Encep Dahlan*

Mahasiswa adalah generasi yang mengemban segenap titel dipundaknya. ”Agent of Change, Agent of Social Control, dll. Seabreg titel tersebut seyogyanya disadari dan dipahami, dengan begitu mahasiswa diharapkan menjadi bagian dari masyarakat yang senantiasa dinamis, kritis, progresif, serta transformatif dalam menghadapi dinamika kehidupan yang lebih kompleks. Disamping itu, mahasiswa juga mengemban misi kemanusiaan. Dengan begitu, keberadaannya tidak hanya sekedar sebagai kaum intelektual semata, namun lebih dari itu bagaimana keberadaannya bisa membawa perubahan dan memberikan kontribusi yang positif bagi lingkungan sekitarnya. 
Peranan tersebut tidak akan dimiliki dan disadari bila seseorang (baca:mahasiswa) tidak pernah melibatkan dirinya dalam sebuah proses pembelajaran. Pembelajaran disini tidak hanya monoton aktif mengikuti perkuliahan semata, akan tetapi lebih dari itu yakni berpartisipasi dan berperan aktif dalam kegiatan organisasi.
Pada hakikatnya manusia diciptakan dengan mengemban dua tugas pokok yakni sebagai hamba Allah dan menjadi seorang pemimpin (Kholifah Fil `ardl) hal lain yang harus dimiliki seorang mahasiswa dalam rangka mewujudkan hamba yang ideal diatas adalah menjadi manusia yang mempunyai konsep diri yang jelas, bila seseorang telah memiliki konsep dirinya dengan benar dia akan menjadi manusia yang lebih manusisawi dan sadar dengan sifat kemanusiaannya. Sehingga mampu mengemban tanggung jawab untuk ikut menciptakan masa depan bagi dirinya, kelompoknya, organisasi dan komunitas masyarakatnya, selanjutunya ia akan terus meningkatkan kompetensinya untuk menjadi manusia visioner dan menjadi pemimpin yang sejati.
Seorang mahasiswa juga harus mampu mengubah pola pikir dan membuat skala prioritas dalam menjalani kegiatan akademiknya, sehingga kuliah tidak sekedar menggugurkan kewajiban semata, karena sejujurnya di luar ruang kuliah sana masih terbentang luas dunia yang belum terjamah oleh kita dan selalu menuntut kita untuk menjamahnya. Akan tetapi yang terjadi kemudian seringkali mahasiswa hanya terjebak dalam sebuah formlitas dan rutinitas kegiatan akademiknya, mahasiswa hanya datang, duduk, diam, pulang dan mengumpulkan tugas tepat waktunya dijamin bakal mendapat IPK yang tinggi, lulus dengan predikat Cumlaude dan sukses dalam kariernya. Sehingga image yang timbul kemudian adalah mahasiswa aktivis, organisatoris baik intra maupun ekstra adalah mahasiswa yang tidak punya tujuan, buang-buang waktu, jarang kuliah, IPK jeblok dan tidak punya target masa depan yang jelas, hal ini terjadi tidak lain disebabkan kurangnya pemahaman akan posisinya sebagai insan sosial, disamping itu apresiasi dari pimpinan kampus terhadap para aktivis organisasi sangat minim, sehingga semakin apatisnya mahasiswa terhadap organisasi. 
Belum lagi sebuah dilema yang terjadi ketika sebagian pelaku organsasi (baca:aktivis) ternyata berganti haluan dengan komitmen awal dengan alasan keberadaannya untuk menuntut ilmu tidak sibuk mengurusi organisasi, seolah berorganisasi adalah sebuah pilihan yang keliru dan merasa capek ketika harus bekerja sendirian untuk membesarkan dan merawat organisasinya. Berbagai image negatif inilah yag menurut penulis merupakan kecelakaan intelektual akademik yang harus dihilangkan dari nalar seorang mahasiswa.
Hidup adalah sebuah pilihan yang harus kita jalani dan harus kita pertanggungjawabkan konsekuensinya sehingga sudah menjadi sebuah keniscayaan ketika kita harus menentukan sebuah pilihan akademik dan berorganisasi. Tetapi yang lebih penting adalah proses dalam berorganisasi tersebut yang mampu membentuk dan mendewasakan kita dalam berfikir, bertutur dan bertindak.
Disinlah sebuah komitmen dipertanyakan, mampukah kita memanifestasikan komitmen tersebut dalam sebuah tindakan konkrit sehingga kita tidak menjadi manusia pecundang. 
Dalam rangka refleksi itulah, keberadaan BEM Fakultas Tarbiyah sebagai organisasi kemahasiswaan tertinggi ditingkat Fakultas, BEM FT mempunyai peran dan fungsi untuk mewujudkan hal itu, BEM FT dengan segala aktivitasnya dirasa perlu membuat rencana strategis yang mampu bergerak dan melakukan perubahan ke arah yang lebih progresif. Oleh karenanya menarik untuk mengutip apa yang pernah disampaikan sahabat Adib Faishol (Rabu, edisi VI/Tahun VI/Juli 2007, Bahwa program kerja BEM FT setidaknya tertuang dalam 5 pokok pikiran yaitu, 1. Intelektualitas, 2. Pemberdayaan, 3. Perluasan Jaringan, 4. Moralitas, 5. Interdependen.
Berangkat dari 5 pokok pikiran itu, Kepengurusan BEM FT periode 2008-2009 membuktikan eksistensinya dengan mengeksplorasikan dalam wujud kegiatan-kegiatan yang lebih progresif. Sedikit banyak BEM FT telah melakukan renovasi dan gebrakan baru dalam kinerjanya, yaitu tidak lagi mengadakan kegiatan yang bergelar ”Gebyar atau Semarak Tarbiyah” tetapi lebih mengoptimalkan sebuah kegiatan rutin pada setiap bulannya.
Dimulai dengan pelantikan kepengurusan pada bulan Juli 2008 serta peluncuran buletin ”Rumat” (Rubrik Mahasiswa Tarbiyah) pada saat kegiatan POSMARU. Yang bertujuan sebagai wadah aspirasi mahasiswa dalam bidang tulis menulis. Dengan memanfaatkan momentum bulan Ramadhan BEMFT mengadakan kegiatan Safari Ramadhan di Desa Sepanyul Kec. Gudo sebagai wujud pengabdian dan manifestasi peran mahasiswa kepada masyarakat. Disamping itu, Secara struktural telah ada penambahan satu menteri yakni menteri Pemberdayaan Perempuan sebagai refleksi atas kebutuhan untuk mengoptimalkan potensi mahasiswi yang dirasa sampai hari ini masih stagnan dari bumi tempatnya berpijak, salah satu kegiatannya adalah dengan mengadakan diskusi yang bertemakan perempuan yakni pada tanggal 22 Desember yang bertepatan dengan momentum pelaksanaan Hari IBU. Sebagai wujud respect terhadap mahasiswa semester 7 yang sedang dalam tahap penggarapan skripsi, BEMFT merasa perlu menfasilitasinya dengan sebuah kegiatan yang aplikatif, kegiatan ini berupa Diklat Metodologi Penelitian yang bertujuan untuk memperdalam pengetahuan mahasiswa dalam proses penyelesaian skripsinya. 
Seiring datangnya musim penghujan yang selalu dikuti dengan mewabahnya Virus Nyamuk Demam Berdarah, BEMFT merasa terpanggil untuk memberikan pemahaman akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, khususnya sebagai upaya meminimalisir penderita DBD. Kegiatan ini berupa Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilaksanakan di Desa Gondek Kec. Mojowarno. Kegiatan ini bekerja sama dengan teman-teman dari Club Motor Jombang Oeloeng Community (JOECY). Hal ini menunjukkan BEMFT tidak menutup diri untuk bergaul dan belajar dengan siapapun. Serta dalam rangka memperluas jaringan. Baru-baru ini, tepatnya pada bulan Maret BEMFT melaksanakan kegiatan Festival Al Banjari dalam rangka memperingati Pelaksanaan Hari Besar Islam (PHBI), yang beda dari pelaksanaan Al banjari tahun ini dari tahun sebelumnya adalah tahun ini pesertanya berasal dari beberapa Kabupaten di Jawa Timur kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian untuk terus mempertahankan kesenian islami sekaligus sebagai ajang promosi kampus.
Uraian diatas hanya sekelumit dari kegiatan yang telah dilaksanakan oleh BEMFT, meskipun pada hakikatnya dari beberapa kegiatan yang telah dilakukan belum bisa optimal. Tentunya kami selalu berusahan untuk melaksanakan dan memberikan kontribusi sebagai bentuk dan komitmen kami.
Bukan sebuah hasil yang membuat kami bangga, akan tetapi sebuah proses untuk memperjuangkan hasil itulah yang membuat kami selalau bangga menjadi bagian dari proses tersebut. Oleh sebab itu kami mengajak kepada semua mahasiswa Fakultas Tarbiyah, lakukan apa yang bisa kita lakukan dan berikan kepada orang lain, kepada organisasi kita, bukan berpikir apa yang saya dapatkan dari organisasi, sehingga kita akan menjadi kelompok intelektual dan cendekiawan yang selalu berpegang pada komitmen dan kompetensi yang kita miliki dan saya berikan apresiasi besar kepada sahabat-sahabat yang masih eksis memegang teguh komitmen dan keberaniannya mengabdikan diri pada nilai-nilai kebenaran manusia sejati.

  ”Sekali Bendera Dikibarkan Pantang Untuk Diturunkan”
”Lakukanlah Sekecil Apapun peran yang sedang kalian jalani dengan kesungguhan yang sebesar-besarnya, maka lihatlah apa yang akan terjadi”.
Sebab, cita-cita mustahil terwujud jika 
tidak ada tindakan........
Sebab, tujuan tidak akan tercapai
tanpa adanya tindakan......
Sebab, mustahil impian akan terwujud jika hanya diam, tidak melakukan
apapun............

Minggu, 11 Oktober 2009

DAFTAR ALAMAT BEM PTNU SE – NUSANTARA WILAYAH III JAWA TIMUR

DAFTAR ALAMAT BEM PERGURUAN TINGGI NU SE JAWA TIMUR

ALAMAT

NO

NAMA LEMBAGA

ALAMAT

1

STAI AL-FALAH ASSUNNIYAH

Jln. Semeru No.9 Kencong-jember

2

UNIVERSITAS ISLAM JEMBER

Jln kyai Mojo No. 101. Jember 68133

3

STAI AL-QODIRI

Jln Gebang Patrang 68117 Jember

4

STAI AT-TAQWA

Jln. Letnan Sutarman No. 08 68213 Bondowoso

5

IAI IBRAHIMY SITUBONDO

Jln. Komplek Masjid Jami’ Sukorejo 68374 Situbondo

6

STAI SALAHUDDIN PASURUAN

Jln. W. Dono No. 113 Pasuruan

7

STAI KARYA PEMBANGUNAN PARON NGAWI

Jln. Raya Paron Ngawi

8

STAI GAMBIRAN

Jln. Gambiran Banyuwangi

9

STAI IBRAHIMY GENTENG

Jln. KH. Hasyim Ashari No. 01 Genteng-Banyuwangi

10

STIB BANYUWANGI

Jln. Jember No. 40 Cluring – Banyuwangi

11

STAI DARUSSALAM

Jln. Blok Agung Karang Doro-Tegal Sari- BWI

12

IAI NURUL JADID

Jln. Karang Anyar Paiton-Probolinggo

13

STAI ZAINUL HASAN

Jln. PB. Sudirman No. 360 Kraksaan-Probolinggo

14

UNIVERSITAS ISLAM MALANG

Jln. M.T. Haryono No. 193 Malang

15

STIT RADEN RAHMAT

Jln. Raya Mojosari No. 02 Kepanjen-Malang

16

STAI AL-QOLAM GONDANG LEGI

Jln.Raya Putat Lor Gondang Legi-Malang

17

STIT IBNU SINA

Jln. Sultan Agung No. 76 Malang

18

STAI MA’HAD ALY AL-HIKAM MALANG

Jln. Cengger Ayam No. 25 Malang

19

STAI IBNU SINA

Jln. Pesantren III No. 06 Mojosari-Malang

20

STIS WAHIDIYAH KEDIRI

Ponpes Keunglo Jln. Wachid Hasyim 64114

21

STAI HASANUDDIN KEDIRI

Jln. Kelapa No. 84 Jombangan Tertek-Kediri

22

IAI TRIBAKTI

Jln. KH. Wachid Hasyim No. 62 Kediri

23

UNIV. ISLAM LAMONGAN

Jl. Veteran No.53 Lamongan

24

UNIV ISLAM DARUL ULUM LAMONGAN

Jl. Airlangga No.03 Sukodadi-Lamongan

25

STIT AL-FATAH LAMONGAN

Jl. PonPes Al-Fattah

26

STAI SUNAN DARAJAT LAMONGAN

Jl. KH. Mustofa Kranji-Paciran-Lamongan

27

STIT SUNAN GIRI

Jl. Ki Amin No. 14 Lamongan

28

STIT SYARIFUDDIN LUMAJANG

PonPes Kyai Syarifuddin Wonoreja-Lumajang

29

STIT AL-AZHAR SIDOARJO

Jl. Kusuma Bangsa No. 124

30

STAI AL-KHOZINY BUDURAN SIDOARJO

Jl. KH. Moh. Abbas 1/10 Buduran-Sidoarjo

31

UNIV SUNAN GIRI

Jl. Brigjen Katamso II Waru Sidoarjo

32

STAI YPB-WI SURABAYA

Jl. Garuda 59 Rewwin Wru Sidoarjo

33

STAI MAARIF MAGETAN

Jl. Baluk 63395 Magetan

34

STIT AL-URWATUL WUSTQO JOMBANG

PonPes Al-Wuratul Wutsqo Bulurejo Diwek Jombang 61471

35

STAI BAHRUL ULUM

Jl. Garuda No. 09 Tambak Beras-Jombang 61451

36

INSTITUT KEISLAMAN HASYIM ASYHARI JOMBANG

Jl. Irian Jaya No. 55 Culir

37

UNDAR JOMBANG

Jl. Merdeka No. 29 A Jombang

38

IAI SUNAN GIRI PONOROGO

Jl. Batoro Katong No. 32 Ponorogo

39

ISI DARUSSALAM PONOROGO

Jl. Kampus ISID Demangan-Ponorogo

40

STI TARBIYAH NU PACITAN

Jl. Hos Cokro Aminoto no. 09 B 63512 Pacitan

41

STI TARBIYAH PACITAN

Jl. KH. Dimyati No. 19 Pacitan

42

STI TARBIYAH AL-MUSLIHUN TLOGO BLITAR

Jl. Tlogo, Kanogoro 66171 Blitar

43

STAI NIFTAHUL ULA

Jl desa Nglawak Kertosono 64351 Nganjuk

44

STI TARBIYAH MAHDUN IBRAHIM TUBAN

Jl. Diponegoro No. 17 Tuban

45

STAI AL-QOLAM GRESIK

Jl. Raya Bungah No. 83 Gresik

46

STAI AL-AZHAR MANGANTI GRESIK

Jl. Raya Menganti Krajan No. 474 Gresik

47

INS KEISLAMAN ABDULLAH FIQIH MANYAR GRESIK

Jl. KH. Syafi’i No. 07 Tromol Pos 01

NO

NAMA LEMBAGA

ALAMAT

48

STIT MASKUMAMBANG GRESIK

Jl. Desa Dukun Gresik

49

STAI DARUT TAQWA MANYAR GRESIK

Jl. Raya Suri Manyar Gresik

51

STAI DIPONEGORO

Jl. RA Kartini No. 47 Tulung Agung

52

STI TARBIYAH YUNISMA PAMEKASAN

Jl. PonPes Miftahul Ulum Betet-Pamekasan

53

STAI AL-KHAERAT PAMEKASAN

Jl. Palengan Pamekasan-Madura

54

STAI MIFTAHUL ULUM PAMEKASAN

Jl. Komplek PonPes Miftahul Ulum Betet-Pamekasan

55

UNIVERSITAS ISLAM MADURA

Jl. PonPes Miftahul Ulum Betet-Pamekasan

56

STAI AL-HAMIDIYAH BANGKALAN

Jl. Raya Sen Asen No. 74 PO Box 001 Koneng-Bangkalan

57

STAI MIFTAHUL ULUM KEDUNGDUNG MODUNG BANGKALAN

Jl. Modung Bangkalan

58

STAI SYAICHONA CHOLIL BANGKALAN

Jl. KH. Mohammad Cholil

59

STAI DARUL HIKMAH BANGKALAN

Jl. Raya Langkap Burneh-Bangkalan 69171

60

STIK ANNUQOYYAH GULUK-GULUK SUMENEP

Jl. Bukit Lancaran PP. Annuqayyah Guluk-Guluk Sumenep-Madura 69463

61

STIT USYMUNI SUMENEP YAYASAN AQIDAH USMUNI

JL. KH. Zainal Arifin No. 1-9 Terate Pandan

62

STIT NAHDLATUT THULAB SAMPANG

Jl. Jamaluddin Pajan Camplong-Sampang

63

STIT SUNAN GIRI TRENGGALEK

Jl. Ki Mangun Sarkoro

64

STAI DARUL LUGHAH WADDAKWAH

Jl. Raya Raci No. 05 Bangil-Pasuruan

65

STAI PANCAWAHANA BANGIL

Jl. Untung Soropati No. 366 Bangil

66

STIPI KHADIJAH SURABAYA

Jl. A. Yani No. 2 – 4 Surabaya

67

STI SYARI’AH SENTRA BISNIS ISLAM SURABAYA

Jl. Jemur Andayani 1/7 Surabaya Komplek DISHUB Prov. Jatim

68

STIT TARUNA SURABAYA

Jl. Kalirungkut Mejoyo1/2 60293

69

STI DAHWAH TARUNA SURABAYA

Jl. Khairil Anwar No. 27 Surabaya

70

STI SYARI’AH SBI SURABAYA

Jl. Ngagel Raya Selatan Surabaya

71

STAI LUQMAN AL-HAKIM PESANTREN HIDAYATULLAH SURABAYA

Jl. Kejawan Putih Tambak No. 06, 60112

72

STAI SUNAN GIRI

Jl. Jend. A. Yani No. 10, 62115

73

STAI AR-ROSYID SURABAYA

Jl. Lontar No. 100, 60216

74

IAI RIYADLOTUL MUJAHIDIN PONOROGO

Jl. Ngabar 63471

75

IAI SUNAN GIRI PONOROGO

Jl. Sultan Agung No. 22 Ponorogo

76

STIA MADIUN

Jl. Ponorogo No. 70 B Demangan Madiun